Harus diakui, banyak dari kita yang senang dengan long weekend, atau hari kejepit. Akhirnya ada hari panjang di mana kita bisa santai bersama keluarga, atau apa lah, terlepas dari pekerjaan.
Tapi ngomong-ngomong: konsep hari libur ada di Al-Quran nggak? Apakah Al-Quran menyebutkan bahwa orang boleh berlibur setelah bekerja beberapa hari? Rasanya jawabannya tidak. Malah di hari Jumat, yang sekarang jadi hari libur di beberapa negeri Muslim, Al-Quran menyebutkan agar kita menyebar ke penjuru bumi untuk mencari rezeki setelah selesai shalat Jumat.
Benar, Al-Quran ada menyebut larangan beraktifitas di hari Sabtu, dan mengisahkan bagaimana Allah mengazab sekelompok manusia karena melanggar larangan ini. Tapi ini berlaku buat umat Yahudi.
Tak pelak lagi, konsep hari libur memang sebenarnya sesuatu yang kita import dari luar. Tidak usah jauh-jauh, buyut-buyut kita yang petani, nelayan, atau pedagang, tidak mengenal libur. Mereka akan bertani, berkebun, menangkap ikan, atau berjualan, tiap hari, jika memang cuaca mengizinkan atau sedang tidak sakit.
Yang memiliki hari libur dari dulu memang umat Yahudi. Bukan karena mereka tidak mau bekerja di hari Sabbat, tetapi karena tidak boleh. Itu pegangan keyakinan mereka. Hari Sabtu sungguh begitu dikeramatkan sampai-sampai ada yang berkeyakinan bahwa menolong orang yang terperosok ke lubang yang dalam, jika itu terjadi di hari Sabtu, dilarang.
Tampaknya konsep hari suci ini kemudian diadopsi umat Kristen, dengan memilih hari Minggu sebagai hari di mana orang pergi ke gereja, memperbanyak ibadah, dan meninggalkan pekerjaan. Dahulu hari Minggu dipersembahkan untuk Dewa Matahari. Orang Romawi menyebutnya dies Solis (hari matahari), orang Inggris Sunday, orang Belanda zondag, orang Jerman Sonntag, dsb. Para Bapak Gereja mencoba menghilangkan nuansa paganisme ini dengan mempopulerkan hari Minggu sebagai "hari Tuhan". Muncullah istilah Dies Domini dalam bahasa Latin, yang dengan makna yang sama berlanjut ke domenica di bahasa Italia, Dimanche di bahasa Perancis, dan domingo di bahasa Spanyol/Portugis (yang lari ke kata minggu yang sekarang kita gunakan ...).
Ketika Eropa memasuki era industri, dengan munculnya kelas buruh dan pekerja, orang Eropa mencetuskan konsep libur di hari Minggu, dengan tujuan agar orang-orang konsentrasi beribadah. Pengecualian diberikan kepada umat Yahudi, di mana mereka boleh libur di hari Sabtu. Dalam perjalanan waktu, kedua hari ini menjadi libur di beberapa bidang usaha.
Sekarang kembali ke kita. Banyak dari kita menikmati libur di Sabtu dan Minggu. Baik sebagai karyawan, pegawai, mahasiswa, atau pelajar. Apakah ini tasyabbuh?
Suatu hari saya lihat ada orang shalat tergesa-gesa, di akhir waktu, dan sendirian tidak berjamaah. Hati saya mau mengritik orang ini, ketika tiba-tiba saya berpikir: Orang ini tetap masih lebih bagus daripada yang tidak shalat.
Senin, 01 April 2013
Kamis, 14 Februari 2013
Tradisi khas umat Islam Indonesia 2: puji-pujian
2. Puji-pujian di antara adzan dan qamat
Waktu saya pertama kali shalat di mesjid RS Muhammadiyah Bandung, saya kaget. Setelah adzan selesai, qamat langsung dikumandangkan. Orang langsung mulai shalat berjamaah. Tampaknya di sana orang sangat memperhatikan bahwa shalat harus disegerakan, tanpa ditunda-tunda.
Ini membuat saya di shalat berikutnya menjadi bersegera. Begitu adzan terdengar, saya langsung ambil air wudhu, dan bergegas ke mesjid di RS ini. Ini karena saya tahu bahwa qamat akan langsung menyusul, dan shalat segera dimulai. Kalau tidak bergegas, ada kemungkinan masbuq.
Ini beda sekali dengan di kampung asal saya. Di antara adzan dan qamat bisa ada jeda sekitar lebih kurang 15 menit. Dan di jeda ini muncul tradisi pelantunan apa yang kita sebut "puji-pujian".
Puji-pujian ini semacam tembang, dengan ritme dan melodi tertentu. Liriknya bisa bahasa Sunda, Jawa, Melayu, atau campur. Temanya macam-macam: bisa shalawat atas Nabi, nasihat, wejangan, pengingat, hingga ke hafalan asmaul-husna atau rukun agama.
Karena sering kali berkumandang, orang mudah mengingatnya. Dan mudah pula untuk mewariskannya dari generasi ke generasi.
Dari mana asal-muasal tradisi ini? Boleh jadi awalnya, ketika orang menunggu imam datang, ada yang bershalawat, mengaji, atau melantunkan bacaan-bacaan yang pernah dipelajari dari ustadz, kiai, pesantren, dsb. Lama-kelamaan ada yang melakukannya bersama, hingga akhirnya seisi mesjid ikut melakukannya.
Tentu tradisi ini memiliki aspek positifnya, karena banyak pesan agama yang menjadi mudah diingat. Di sisi lain, juga memang tidak membuat orang bersegera melakukan shalat. Ketika adzan berkumandang, orang mungkin berpikir, ah masih ada puji-pujian, santai aja, gak bakal ketinggalan berjamaah.
Waktu saya pertama kali shalat di mesjid RS Muhammadiyah Bandung, saya kaget. Setelah adzan selesai, qamat langsung dikumandangkan. Orang langsung mulai shalat berjamaah. Tampaknya di sana orang sangat memperhatikan bahwa shalat harus disegerakan, tanpa ditunda-tunda.
Ini membuat saya di shalat berikutnya menjadi bersegera. Begitu adzan terdengar, saya langsung ambil air wudhu, dan bergegas ke mesjid di RS ini. Ini karena saya tahu bahwa qamat akan langsung menyusul, dan shalat segera dimulai. Kalau tidak bergegas, ada kemungkinan masbuq.
Ini beda sekali dengan di kampung asal saya. Di antara adzan dan qamat bisa ada jeda sekitar lebih kurang 15 menit. Dan di jeda ini muncul tradisi pelantunan apa yang kita sebut "puji-pujian".
Puji-pujian ini semacam tembang, dengan ritme dan melodi tertentu. Liriknya bisa bahasa Sunda, Jawa, Melayu, atau campur. Temanya macam-macam: bisa shalawat atas Nabi, nasihat, wejangan, pengingat, hingga ke hafalan asmaul-husna atau rukun agama.
Karena sering kali berkumandang, orang mudah mengingatnya. Dan mudah pula untuk mewariskannya dari generasi ke generasi.
Dari mana asal-muasal tradisi ini? Boleh jadi awalnya, ketika orang menunggu imam datang, ada yang bershalawat, mengaji, atau melantunkan bacaan-bacaan yang pernah dipelajari dari ustadz, kiai, pesantren, dsb. Lama-kelamaan ada yang melakukannya bersama, hingga akhirnya seisi mesjid ikut melakukannya.
Tentu tradisi ini memiliki aspek positifnya, karena banyak pesan agama yang menjadi mudah diingat. Di sisi lain, juga memang tidak membuat orang bersegera melakukan shalat. Ketika adzan berkumandang, orang mungkin berpikir, ah masih ada puji-pujian, santai aja, gak bakal ketinggalan berjamaah.
bersambung
Senin, 11 Februari 2013
Membaca lafazh tak paham arti
Suatu sore sesudah maghrib saya berjalan pulang. Dari mesjid terdekat terdengar suara orang berdzikir. Lumayan kencang karena pakai pengeras suara.
Tetapi tunggu ... kok yang terdengar itu bunyi "laa ilaah", "laa ilaah", dan "laa ilaah". Saya yakin si pendzikir pasti mengucapkan juga "illallaah". Hanya saja begitu pelan dan tidak terdengar. Jadinya yang menggaungkan ke seluruh penjuru kampung adalah ucapan "laa ilaah".
Sadarkah si pendzikir bahwa orang sedang mendengar dia meneriakkan "tidak ada tuhan", "tidak ada tuhan", "tidak ada tuhan"?
Kemungkinan tidak, karena bukan rahasia lagi bahwa kita sering melantunkan sebuah lafazh tanpa pernah mencoba tahu apa maknanya. Kita merasa cukup untuk bisa menghafalnya, dan merasa mendapat pahala ketika membacanya.
Contoh lain adalah sebagian muadzin kita. Lafazh "hayya 'alash-shalah" dan "hayya 'alal-falah" terkadang terdengar "hayya laa shalah" atau "hayya lal-falah". Perbedaan di satu huruf ini tentu saja sangat mendasar, karena seruan "mari menuju shalat" dan "mari menuju kemenangan" bisa menjadi berbunyi lain. Kata "menuju" ('alaa) berubah menjadi "laa" yang berarti "tidak", "tidak ada", atau "jangan".
Tampaknya sudah saatnya kita sedikit-sedikit mencoba memahami apa yang kita baca. Kalau tidak, kita tanpa sadar malah melantunkan kebalikan dari apa yang kita niatkan.
Tetapi tunggu ... kok yang terdengar itu bunyi "laa ilaah", "laa ilaah", dan "laa ilaah". Saya yakin si pendzikir pasti mengucapkan juga "illallaah". Hanya saja begitu pelan dan tidak terdengar. Jadinya yang menggaungkan ke seluruh penjuru kampung adalah ucapan "laa ilaah".
Sadarkah si pendzikir bahwa orang sedang mendengar dia meneriakkan "tidak ada tuhan", "tidak ada tuhan", "tidak ada tuhan"?
Kemungkinan tidak, karena bukan rahasia lagi bahwa kita sering melantunkan sebuah lafazh tanpa pernah mencoba tahu apa maknanya. Kita merasa cukup untuk bisa menghafalnya, dan merasa mendapat pahala ketika membacanya.
Contoh lain adalah sebagian muadzin kita. Lafazh "hayya 'alash-shalah" dan "hayya 'alal-falah" terkadang terdengar "hayya laa shalah" atau "hayya lal-falah". Perbedaan di satu huruf ini tentu saja sangat mendasar, karena seruan "mari menuju shalat" dan "mari menuju kemenangan" bisa menjadi berbunyi lain. Kata "menuju" ('alaa) berubah menjadi "laa" yang berarti "tidak", "tidak ada", atau "jangan".
Tampaknya sudah saatnya kita sedikit-sedikit mencoba memahami apa yang kita baca. Kalau tidak, kita tanpa sadar malah melantunkan kebalikan dari apa yang kita niatkan.
Rabu, 06 Februari 2013
Tasyabbuh, beberapa hal untuk didiskusikan 7
[... sambungan]
Di depan kita sudah melihat beberapa contoh yang, menurut saya, menunjukkan bahwa tema tasyabbuh harus dibahas hati-hati. Maksudnya: tidak serta merta mencap "tasyabbuh" segala apa yang berasal dari tradisi non-Muslim, atau yang kelihatannya seperti itu.
Sabun dan odol sudah menjadi bagian dari kita sehari-hari; sudah tak kita sadari kadar "luarnya". Al-Quran yang kita miliki di rumah, atau kita bawa ke mana-mana, dalam hal fisiknya memiliki kadar "peniruan" dari umat lain. Begitu juga tasbeh yang menjadi asesoris sebagian dari kita, adalah "jiplakan" dari umat lain. Kemudian kita juga lihat bahwa peranan pengacara adalah hal yang sama sekali baru di dunia hukum umat Islam.
Ada pula hal yang lebih rumit daripada kelihatannya: celana panjang misalnya. Kita sangka itu tradisi sebuah umat, padahal itu memiliki sejarah yang tidak pendek, dan tidak mudah lagi untuk mengatakan itu adalah "ciri khas" sebuah kaum tertentu. Dan akhirnya kita lihat pula bahwa dalam hal tertentu kita tampaknya memang harus menjiplak orang lain, seperti dalam hal pemberantasan korupsi, kebersihan, ketertiban, dsb.
Adakah contoh-contoh lain? Tentu saja. Sebagai penutup, kita ambil satu saja: mesjid. Di zaman Nabi saw. mesjid itu hanya berdinding, tanpa atap. Gereja atau sinagog memiliki atap; sebagian gereja memiliki kubah yang boleh jadi adalah cikal bakal kubah-kubah mesjid kemudian. Apakah memberikan atap atau kubah kepada mesjid adalah tasyabbuh?
Di depan kita sudah melihat beberapa contoh yang, menurut saya, menunjukkan bahwa tema tasyabbuh harus dibahas hati-hati. Maksudnya: tidak serta merta mencap "tasyabbuh" segala apa yang berasal dari tradisi non-Muslim, atau yang kelihatannya seperti itu.
Sabun dan odol sudah menjadi bagian dari kita sehari-hari; sudah tak kita sadari kadar "luarnya". Al-Quran yang kita miliki di rumah, atau kita bawa ke mana-mana, dalam hal fisiknya memiliki kadar "peniruan" dari umat lain. Begitu juga tasbeh yang menjadi asesoris sebagian dari kita, adalah "jiplakan" dari umat lain. Kemudian kita juga lihat bahwa peranan pengacara adalah hal yang sama sekali baru di dunia hukum umat Islam.
Ada pula hal yang lebih rumit daripada kelihatannya: celana panjang misalnya. Kita sangka itu tradisi sebuah umat, padahal itu memiliki sejarah yang tidak pendek, dan tidak mudah lagi untuk mengatakan itu adalah "ciri khas" sebuah kaum tertentu. Dan akhirnya kita lihat pula bahwa dalam hal tertentu kita tampaknya memang harus menjiplak orang lain, seperti dalam hal pemberantasan korupsi, kebersihan, ketertiban, dsb.
Adakah contoh-contoh lain? Tentu saja. Sebagai penutup, kita ambil satu saja: mesjid. Di zaman Nabi saw. mesjid itu hanya berdinding, tanpa atap. Gereja atau sinagog memiliki atap; sebagian gereja memiliki kubah yang boleh jadi adalah cikal bakal kubah-kubah mesjid kemudian. Apakah memberikan atap atau kubah kepada mesjid adalah tasyabbuh?
Selasa, 05 Februari 2013
Tasyabbuh, beberapa hal untuk didiskusikan 6
[... sambungan]
6. Di depan sudah kita lihat bagaimana Pak Ustadz kita menyebutkan "apapun" yang datang dari luar sebagai tasyabbuh. Pertanyaannya, bagaimana kalau hal dari luar itu lebih bagus? Apakah tidak boleh ditiru juga?
Contoh yang menarik adalah korupsi. Sudah sangat jelas bahwa negara-negara yang paling tidak korup adalah negeri-negeri non-muslim, seperti negara-negara Skandinavia, Singapura, atau Jepang. Sementara posisi umat Islam seperti kita di Indonesia berada di level memalukan.
Apakah meniru negara-negara "kafir" itu di dalam mencegah, memerangi, dan menindak korupsi termasuk tasyabbuh?
Juga dalam hal kebersihan, kedisiplinan, kepatuhan hukum, ketertiban, dsb. Apakah meniru Jerman atau Swiss dalam hal ini termasuk tasyabbuh juga?
6. Di depan sudah kita lihat bagaimana Pak Ustadz kita menyebutkan "apapun" yang datang dari luar sebagai tasyabbuh. Pertanyaannya, bagaimana kalau hal dari luar itu lebih bagus? Apakah tidak boleh ditiru juga?
Contoh yang menarik adalah korupsi. Sudah sangat jelas bahwa negara-negara yang paling tidak korup adalah negeri-negeri non-muslim, seperti negara-negara Skandinavia, Singapura, atau Jepang. Sementara posisi umat Islam seperti kita di Indonesia berada di level memalukan.
Apakah meniru negara-negara "kafir" itu di dalam mencegah, memerangi, dan menindak korupsi termasuk tasyabbuh?
Juga dalam hal kebersihan, kedisiplinan, kepatuhan hukum, ketertiban, dsb. Apakah meniru Jerman atau Swiss dalam hal ini termasuk tasyabbuh juga?
Kamis, 31 Januari 2013
Tasyabbuh, beberapa hal untuk didiskusikan 5
[... sambungan]
5. Saya pernah mendengar ada kritikan terhadap celana panjang. Ini dikatakan termasuk tasyabbuh, dan merupakan penjiplakan identitas umat Nasrani.
Benarkah celana panjang itu tradisi Nasrani?
Ketika Kekaisaran Romawi berkuasa, mode pakaian pria adalah tunika, atau kain terusan, atau juga semacam jubah. Pakaian para tentara Romawi malah lebih mirip rok. Mode ini berlanjut hingga ke masa awal munculnya agama Nasrani, terus ke zaman Nasrani menjadi agama negara di wilayah Romawi, dan bahkan ketika kemudian Romawi pecah menjadi wilayah barat dan timur. Ketika Islam muncul, mode pakaian umat Nasrani tetap seperti itu, tanpa perubahan yang gradual.
Lantas siapa yang menyebarkan celana panjang? Jawabannya adalah bangsa Germania. Mereka adalah cikal bakal utama dari apa yang kita sebut sekarang orang Jerman, Perancis, Inggris, Belanda, atau Swiss. Para penggemar komik Asterix barangkali akan segera teringat bahwa orang Gaul, orang Goth, orang Swiss, atau orang Inggris, memang digambarkan memakai celana panjang; sementara orang Romawi mengenakan semacam rok, baik itu budak, pelayan, pegawai, prajurit, panglima, hingga ke kaisarnya.
Orang Germania ini bagi orang Romawi adalah barbar, tidak berperadaban, dan tak perlu ditiru budayanya, termasuk cara berpakaiannya. Bagi umat Nasrani mereka adalah kafir, tak beragama, dan perlu dibaptis.
Ketika suku-suku Germania dikristenkan, cara berpakaian orang Nasrani tidak mereka adopsi, justru celana panjang mereka yang menjadi tersebar. Tapi harus diakui ini prosesnya panjang. Hingga ke abad ke-18 celana panjang adalah pakaian golongan bawah seperti pekerja, buruh, pedagang, atau pemilik warung makan. Golongan atas dan bangsawan merasa tabu memakai itu; standard mereka adalah celana hingga ke lutut (istilahnya culotte, dan karenanya lawan mereka dari golongan bawah di saat di revolusi Perancis dijuluki sans-culotte).
Kini kita lihat bahwa model celana panjang sudah mendunia ke pelbagai penjuru bumi, termasuk dunia umat Islam. Celana panjang sudah menjadi standard untuk tentara, pekerja tambang, pilot, pemadam kebakaran, dsb. Tak terbayangkan bahwa profesi seperti ini bisa efektif tanpa celana panjang.
Sedikit hati-hati juga bisa ditunjukkan pada kritik atas pemakaian celana panjang oleh kaum wanita. Mengklaim bahwa ini murni penjiplakan dunia Barat bisa dipertanyakan. Kita lihat bahwa kelompok etnis tertentu di Cina dan India sudah mengenal celana panjang sejak zaman dulu, jauh sebelum wanita Eropa.
5. Saya pernah mendengar ada kritikan terhadap celana panjang. Ini dikatakan termasuk tasyabbuh, dan merupakan penjiplakan identitas umat Nasrani.
Benarkah celana panjang itu tradisi Nasrani?
Ketika Kekaisaran Romawi berkuasa, mode pakaian pria adalah tunika, atau kain terusan, atau juga semacam jubah. Pakaian para tentara Romawi malah lebih mirip rok. Mode ini berlanjut hingga ke masa awal munculnya agama Nasrani, terus ke zaman Nasrani menjadi agama negara di wilayah Romawi, dan bahkan ketika kemudian Romawi pecah menjadi wilayah barat dan timur. Ketika Islam muncul, mode pakaian umat Nasrani tetap seperti itu, tanpa perubahan yang gradual.
Lantas siapa yang menyebarkan celana panjang? Jawabannya adalah bangsa Germania. Mereka adalah cikal bakal utama dari apa yang kita sebut sekarang orang Jerman, Perancis, Inggris, Belanda, atau Swiss. Para penggemar komik Asterix barangkali akan segera teringat bahwa orang Gaul, orang Goth, orang Swiss, atau orang Inggris, memang digambarkan memakai celana panjang; sementara orang Romawi mengenakan semacam rok, baik itu budak, pelayan, pegawai, prajurit, panglima, hingga ke kaisarnya.
Orang Germania ini bagi orang Romawi adalah barbar, tidak berperadaban, dan tak perlu ditiru budayanya, termasuk cara berpakaiannya. Bagi umat Nasrani mereka adalah kafir, tak beragama, dan perlu dibaptis.
Ketika suku-suku Germania dikristenkan, cara berpakaian orang Nasrani tidak mereka adopsi, justru celana panjang mereka yang menjadi tersebar. Tapi harus diakui ini prosesnya panjang. Hingga ke abad ke-18 celana panjang adalah pakaian golongan bawah seperti pekerja, buruh, pedagang, atau pemilik warung makan. Golongan atas dan bangsawan merasa tabu memakai itu; standard mereka adalah celana hingga ke lutut (istilahnya culotte, dan karenanya lawan mereka dari golongan bawah di saat di revolusi Perancis dijuluki sans-culotte).
Kini kita lihat bahwa model celana panjang sudah mendunia ke pelbagai penjuru bumi, termasuk dunia umat Islam. Celana panjang sudah menjadi standard untuk tentara, pekerja tambang, pilot, pemadam kebakaran, dsb. Tak terbayangkan bahwa profesi seperti ini bisa efektif tanpa celana panjang.
Sedikit hati-hati juga bisa ditunjukkan pada kritik atas pemakaian celana panjang oleh kaum wanita. Mengklaim bahwa ini murni penjiplakan dunia Barat bisa dipertanyakan. Kita lihat bahwa kelompok etnis tertentu di Cina dan India sudah mengenal celana panjang sejak zaman dulu, jauh sebelum wanita Eropa.
Selasa, 29 Januari 2013
Tasyabbuh, beberapa hal untuk didiskusikan 4
[... sambungan]
4. Ada sebagian dari kita yang suka bawa tasbeh ke mana-mana. Ini terkadang dianggap sebagai ciri dari orang yang alim dan shaleh, karena dia berusaha berdzikir kapan dan di mana pun.
Tradisi membawa tasbeh ini ada di pelbagai penjuru umat Islam di dunia. Tapi ada satu hal yang kurang diketahui: tasbeh bukanlah penemuan umat Islam; kita justru mencontohnya dari para biksu Buddha. Kemungkinan dimulai ketika Islam mulai menyebar ke Asia Tengah. Kita memodifikasinya sehingga jumlah bulir di tasbeh cocok dengan bilangan di dzikir.
Apakah ini tasyabbuh?
Kisah tasbeh ini masih ada lanjutannya. Di abad pertengahan umat Katolik mencontoh ini dari umat Islam, dan memodifikasinya untuk keperluan doa mereka, serta menambahkan salib di simpulnya. Maka muncullah apa yang kita kenal sebagai rosario.
Menarik untuk melihat bagaimana satu umat mengadopsi tradisi umat lain, dan kemudian ada umat lain lagi yang memperpanjang proses adopsinya.
4. Ada sebagian dari kita yang suka bawa tasbeh ke mana-mana. Ini terkadang dianggap sebagai ciri dari orang yang alim dan shaleh, karena dia berusaha berdzikir kapan dan di mana pun.
Tradisi membawa tasbeh ini ada di pelbagai penjuru umat Islam di dunia. Tapi ada satu hal yang kurang diketahui: tasbeh bukanlah penemuan umat Islam; kita justru mencontohnya dari para biksu Buddha. Kemungkinan dimulai ketika Islam mulai menyebar ke Asia Tengah. Kita memodifikasinya sehingga jumlah bulir di tasbeh cocok dengan bilangan di dzikir.
Apakah ini tasyabbuh?
Kisah tasbeh ini masih ada lanjutannya. Di abad pertengahan umat Katolik mencontoh ini dari umat Islam, dan memodifikasinya untuk keperluan doa mereka, serta menambahkan salib di simpulnya. Maka muncullah apa yang kita kenal sebagai rosario.
Menarik untuk melihat bagaimana satu umat mengadopsi tradisi umat lain, dan kemudian ada umat lain lagi yang memperpanjang proses adopsinya.
Tasyabbuh, beberapa hal untuk didiskusikan 3
[... sambungan]
3. Sekarang mari kita bayangkan kita didakwa di pengadilan. Ada jaksa yang menuntut kita, ada hakim yang memimpin persidangan dan nantinya memberikan putusan, dan ada pembela yang berusaha meringankan kita dari segala hukuman atau malah membebaskan.
Dunia hukum formal sudah begitu rumit sehingga orang awam tidak mungkin lagi mengenal seluk beluknya smapai mendalam. Di sini seorang pengacara menjadi sangat berguna. Pengetahuan dia tentang hukum diharapkan bisa menunjukkan sejauh mana tuntutan jaksa memang berlandasan, dan apakah kita sebagai terdakwa memiliki peluang untuk membela diri.
Kalau kita pelajari sejarah dunia yuridis umat Islam, sebenarnya peranan pembela tidak dikenal. Tidak ada bahasan tentang "pengacara" di kajian para ahlulfiqh dari masa klasik umat Islam. Pembela, pengacara, atau advokat adalah sesuatu yang kita contoh dari dunia Barat.
Tapi sekarang profesi ini sudah menjadi begitu akrab dengan kita. Malah kita tidak asing lagi dengan yang namanya Tim Pembela Muslim.
Apakah memasukkan peranan pembela di dunia hukum ini termasuk tasyabbuh?
3. Sekarang mari kita bayangkan kita didakwa di pengadilan. Ada jaksa yang menuntut kita, ada hakim yang memimpin persidangan dan nantinya memberikan putusan, dan ada pembela yang berusaha meringankan kita dari segala hukuman atau malah membebaskan.
Dunia hukum formal sudah begitu rumit sehingga orang awam tidak mungkin lagi mengenal seluk beluknya smapai mendalam. Di sini seorang pengacara menjadi sangat berguna. Pengetahuan dia tentang hukum diharapkan bisa menunjukkan sejauh mana tuntutan jaksa memang berlandasan, dan apakah kita sebagai terdakwa memiliki peluang untuk membela diri.
Kalau kita pelajari sejarah dunia yuridis umat Islam, sebenarnya peranan pembela tidak dikenal. Tidak ada bahasan tentang "pengacara" di kajian para ahlulfiqh dari masa klasik umat Islam. Pembela, pengacara, atau advokat adalah sesuatu yang kita contoh dari dunia Barat.
Tapi sekarang profesi ini sudah menjadi begitu akrab dengan kita. Malah kita tidak asing lagi dengan yang namanya Tim Pembela Muslim.
Apakah memasukkan peranan pembela di dunia hukum ini termasuk tasyabbuh?
Sabtu, 26 Januari 2013
Tasyabbuh, beberapa hal untuk didiskusikan 2
[... sambungan]
2. Mari beralih ke yang lebih "berat". Pada zaman Nabi, Al-Quran tidak dibukukan, tapi dihafalkan. Kalaupun ada catatan-catatan berisi ayat Al-Quran, bentuknya terpencar-pencar, dan mediumnya tidak seragam: ada tulang, kayu, kain, dsb. Perlu dicatat bahwa pada saat itu umat Yahudi dan Nasrani secara umum sudah mengkodifikasi kitab suci mereka. Taurat, dan naskah Ibrani lainnya, disimpan dalam bentuk gulungan; Injil, atau barangkali tepatnya "injil- injil", serta naskah Nasrani lainnya, biasa ditulis di lembaran-lembaran papirus.
Riwayat menyebutkan bahwa ketika Khalifah Utsman hendak mengkodifikasi Al-Quran, sempat muncul tantangan karena ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Namun akhirnya kehendak Utsman terlaksana; Al-Quran dimushafkan. Bentuknya tidak gulungan seperti naskah Taurat, tetapi lembaran seperti kebiasaan Nasrani.
Apakah memushafkan Al-Quran ini termasuk tasyabbuh?
Beberapa abad kemudian, ketika umat Islam sudah terbiasa membukukan Al-Quran, Johann Gutenberg menciptakan mesin cetak. Tidak lama setelah itu umat Nasrani mulai beralih dari menyalin kitab suci ke mencetak.
Bagaimana dengan umat Islam?
Kita perlu waktu agak lama hingga akhirnya terbiasa dengan Al-Quran cetakan, yang salah satunya ada di rumah kita.
Apakah mencetak Al-Quran tasyabbuh?
Sekarang bagaimana di zaman digital?
Lagi-lagi kita pun berada di posisi meniru. Ketika umat lain sudah menyimpan kitab sucinya dalam bentuk dan medium digital, umat Islam baru belakangan mencontoh ini.
Apakah ini juga tasaybbuh?
2. Mari beralih ke yang lebih "berat". Pada zaman Nabi, Al-Quran tidak dibukukan, tapi dihafalkan. Kalaupun ada catatan-catatan berisi ayat Al-Quran, bentuknya terpencar-pencar, dan mediumnya tidak seragam: ada tulang, kayu, kain, dsb. Perlu dicatat bahwa pada saat itu umat Yahudi dan Nasrani secara umum sudah mengkodifikasi kitab suci mereka. Taurat, dan naskah Ibrani lainnya, disimpan dalam bentuk gulungan; Injil, atau barangkali tepatnya "injil- injil", serta naskah Nasrani lainnya, biasa ditulis di lembaran-lembaran papirus.
Riwayat menyebutkan bahwa ketika Khalifah Utsman hendak mengkodifikasi Al-Quran, sempat muncul tantangan karena ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Namun akhirnya kehendak Utsman terlaksana; Al-Quran dimushafkan. Bentuknya tidak gulungan seperti naskah Taurat, tetapi lembaran seperti kebiasaan Nasrani.
Apakah memushafkan Al-Quran ini termasuk tasyabbuh?
Beberapa abad kemudian, ketika umat Islam sudah terbiasa membukukan Al-Quran, Johann Gutenberg menciptakan mesin cetak. Tidak lama setelah itu umat Nasrani mulai beralih dari menyalin kitab suci ke mencetak.
Bagaimana dengan umat Islam?
Kita perlu waktu agak lama hingga akhirnya terbiasa dengan Al-Quran cetakan, yang salah satunya ada di rumah kita.
Apakah mencetak Al-Quran tasyabbuh?
Sekarang bagaimana di zaman digital?
Lagi-lagi kita pun berada di posisi meniru. Ketika umat lain sudah menyimpan kitab sucinya dalam bentuk dan medium digital, umat Islam baru belakangan mencontoh ini.
Apakah ini juga tasaybbuh?
Rabu, 23 Januari 2013
Tasyabbuh, beberapa hal untuk didiskusikan 1
Beberapa hari lalu saya menghadiri sebuah pengajian keluarga. Tuan rumah meminta Pak Ustadz untuk membahas tasyabbuh. Ustadznya masih muda; kalau saya tidak salah dengar, pernah belajar di Libia; dan kelihatan cerdas. Tema tasyabbuh dikuasainya dengan mantap.
Pak Ustadz membeberkan bagaimana beberapa ritual ibadah kita sudah diselimuti tasyabbuh, dan apa pesan Nabi tentang tasyabbuh. Suatu hal yang saya sependapat penuh.
Pak Ustadz juga memberikan contoh kegiatan tasyabbuh lain:perayaan tahun baru, berunjuk rasa, dan debat terbuka. Menurut beliau semua ini adalah peniruan kita atas kebiasaan kaum lain, yang membawa mudharat.
Contoh pertama saya masih bisa ikuti. Contoh lainnya saya pikir bisa diperdebatkan.
Tapi sayangnya Pak Ustadz punya jadwal acara lain, harus langsung pergi setelah membawakan tausiyyah. Jadi tidak ada acara diskusi, tanya jawab, atau pendalaman lebih lanjut. Padahal saya ingin sekali mendapat pencerahan tentang apa saja sih yang boleh disebut tasyabbuh. Saya penasaran tentang ini karena Pak Ustadz memasukkan "apapun" kebiasaan-kebiasaan yang tidak berasal dari Islam sebagai tasyabbuh.
1. Mari kita ambil contoh dari kebiasaan kita sehari-hari: gosok gigi pakai odol, dan mandi pakai sabun. Tak bisa disangkal bahwa Nabi sangat menganjurkan menggosok gigi, dan Islam sangat menekankan kebersihan badan, termasuk mandi. Tetapi odol, dalam bentuk yang kita kenal sekarang, dan sabun dalam bentuk yang kita pakai sehari-hari (batang, ataupun cair) adalah hal yang kita tiru dari kaum lain.
Apakah odol dan sabun ini masuk kategori "apapun"?
Pak Ustadz membeberkan bagaimana beberapa ritual ibadah kita sudah diselimuti tasyabbuh, dan apa pesan Nabi tentang tasyabbuh. Suatu hal yang saya sependapat penuh.
Pak Ustadz juga memberikan contoh kegiatan tasyabbuh lain:perayaan tahun baru, berunjuk rasa, dan debat terbuka. Menurut beliau semua ini adalah peniruan kita atas kebiasaan kaum lain, yang membawa mudharat.
Contoh pertama saya masih bisa ikuti. Contoh lainnya saya pikir bisa diperdebatkan.
Tapi sayangnya Pak Ustadz punya jadwal acara lain, harus langsung pergi setelah membawakan tausiyyah. Jadi tidak ada acara diskusi, tanya jawab, atau pendalaman lebih lanjut. Padahal saya ingin sekali mendapat pencerahan tentang apa saja sih yang boleh disebut tasyabbuh. Saya penasaran tentang ini karena Pak Ustadz memasukkan "apapun" kebiasaan-kebiasaan yang tidak berasal dari Islam sebagai tasyabbuh.
1. Mari kita ambil contoh dari kebiasaan kita sehari-hari: gosok gigi pakai odol, dan mandi pakai sabun. Tak bisa disangkal bahwa Nabi sangat menganjurkan menggosok gigi, dan Islam sangat menekankan kebersihan badan, termasuk mandi. Tetapi odol, dalam bentuk yang kita kenal sekarang, dan sabun dalam bentuk yang kita pakai sehari-hari (batang, ataupun cair) adalah hal yang kita tiru dari kaum lain.
Apakah odol dan sabun ini masuk kategori "apapun"?
Selasa, 22 Januari 2013
Tradisi khas umat Islam Indonesia 1: sarung dan peci
Saya bukan orang yang sering bepergian. Tidak begitu banyak negeri yang pernah saya kunjungi. Tetapi alhamdulillah, semasa mahasiswa, saya diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan muslim dari pelbagai penjuru dunia. Ada dari Bosnia, Iran, Kosovo, Malaysia, Mauritania, Mesir, Turki, Yordania, dsb.
Dari berbagai pertemuan, diskusi, ngobrol, pengamatan, shalat berjamaah, atau belajar bersama, ada hal-hal yang menjadi jelas bagi saya bahwa itu cuma ada di muslim Indonesia, atau paling banter di kawasan Asia Tenggara.
Ada hal yang sudah kita sangka sebagai ritual yang dilakukan semua muslim di dunia, padahal tidak; tapi ada pula yang memang kita sadari sebagai kegiatan unik kita. Ada yang kita tahu itu bidah, tapi ada pula yang kita sangka merupakan ajaran murni agama Islam.
Tulisan ini mencoba mendata hal-hal seperti itu.
1. Sarung dan peci
Di sekitar tahun 1920an pernah diperdebatkan di tanah air apakah sah shalat laki-laki jika memakai celana panjang. Dari sudut pandang sekarang tentu pertanyaan ini lucu; tapi bagi kakek-kakek kita dulu ini adalah masalah serius.
Sampai sekarang pun sebagian lelaki masih merasa lebih sreg shalat dengan sarung dan peci, apalagi jika shalat di mesjid dan shalat hari raya. Saya pun masih merasa seperti ini.
Peci model Indonesia kemungkinan berasal dari Asia Selatan. Bisa Pakistan, India, atau Bangladesh. Meski muslim Turki atau muslim Cina juga punya semacam peci, tapi versi Turki lebih tinggi, dan versi Cina lebih rendah, lebih ke arah pecinya orang Uzbekistan.
Menariknya, kita terkadang menyebut peci itu kopiah. Tentunya ini berasal dari kata Arab "kafiyah" yang memang tutup kepala, tapi bentuknya ya jauh beda.
Kalau sarung, dengan corak khas garis melintang dan mendatar, agak lebih sulit mencari asal-usulnya. Ini bisa berasal lagi dari Asia Selatan, tapi bisa juga dari wilayah Hadramaut. Kita tahu orang Bangladesh suka bersarung, begitu juga orang Rohingya. Di lain pihak sebagian orang Yaman, malah juga Somalia, juga bersarung.
Terlepas dari mana asalnya yang asli, kombinasi peci dan sarung telah menjadi ciri khas muslim Indonesia, atau Asia Tenggara.
Dari berbagai pertemuan, diskusi, ngobrol, pengamatan, shalat berjamaah, atau belajar bersama, ada hal-hal yang menjadi jelas bagi saya bahwa itu cuma ada di muslim Indonesia, atau paling banter di kawasan Asia Tenggara.
Ada hal yang sudah kita sangka sebagai ritual yang dilakukan semua muslim di dunia, padahal tidak; tapi ada pula yang memang kita sadari sebagai kegiatan unik kita. Ada yang kita tahu itu bidah, tapi ada pula yang kita sangka merupakan ajaran murni agama Islam.
Tulisan ini mencoba mendata hal-hal seperti itu.
1. Sarung dan peci
Di sekitar tahun 1920an pernah diperdebatkan di tanah air apakah sah shalat laki-laki jika memakai celana panjang. Dari sudut pandang sekarang tentu pertanyaan ini lucu; tapi bagi kakek-kakek kita dulu ini adalah masalah serius.
Sampai sekarang pun sebagian lelaki masih merasa lebih sreg shalat dengan sarung dan peci, apalagi jika shalat di mesjid dan shalat hari raya. Saya pun masih merasa seperti ini.
Peci model Indonesia kemungkinan berasal dari Asia Selatan. Bisa Pakistan, India, atau Bangladesh. Meski muslim Turki atau muslim Cina juga punya semacam peci, tapi versi Turki lebih tinggi, dan versi Cina lebih rendah, lebih ke arah pecinya orang Uzbekistan.
Menariknya, kita terkadang menyebut peci itu kopiah. Tentunya ini berasal dari kata Arab "kafiyah" yang memang tutup kepala, tapi bentuknya ya jauh beda.
Kalau sarung, dengan corak khas garis melintang dan mendatar, agak lebih sulit mencari asal-usulnya. Ini bisa berasal lagi dari Asia Selatan, tapi bisa juga dari wilayah Hadramaut. Kita tahu orang Bangladesh suka bersarung, begitu juga orang Rohingya. Di lain pihak sebagian orang Yaman, malah juga Somalia, juga bersarung.
Terlepas dari mana asalnya yang asli, kombinasi peci dan sarung telah menjadi ciri khas muslim Indonesia, atau Asia Tenggara.
Kamis, 27 Desember 2012
Mengucapkan selamat Hari Natal: sebuah cerita dan renungan
Tanggal 25 Desember 2012 membuat saya teringat akan peristiwa yang saya dengar beberapa tahun lalu. Tokohnya adalah Pak A, muslim, seorang duta besar kita di sebuah negara Eropa. Kemudian Pak B, kristiani, seorang kolonel, atase militer kita di kedutaan tsb.
Ceritanya, menjelang akhir tahun, Pak A seperti biasa mengirimkan kartu ucapan selamat kepada para staffnya, termasuk Pak B ini. Tapi kali ini, Pak A, menulis "Selamat Tahun Baru" saja, tanpa "Selamat Hari Natal". Ini membuat Pak B naik pitam. Dikabarkan bahwa Pak B mendatangi ruangan Pak A, menggebrak mejanya, dan mengkritiknya sebagai tidak toleran.
Terlepas dari sejauh mana detail ceritanya benar, peristiwa ini mencuatkan pertanyaan menarik: Manakah di antara kedua jenis manusia ini yang tidak toleran? Yang tidak bersedia mengucapkan selamat Natal? Atau yang tidak bisa menerima bahwa orang lain tidak mau mengucapkan selamat Natal?
Harus diakui, di antara umat Islam Indonesia ada dua kelompok dalam hal ucapan selamat Natal. Kelompok pertama berpendapat, bahwa mengucapkan selamat Natal bertolak berlakang dengan prinsip kaidah Islam, dan karenanya tidak boleh dilakukan. Kelompok kedua berpemikiran bahwa ucapan selamat Natal adalah bagian dari rasa saling menghormati antar umat manusia, tidak bertentangan dengan prinsip agama Islam, dan karenanya bukan hanya ok-ok saja, tetapi malah dianjurkan.
[Sebenarnya ada kelompok ketiga yang boleh jadi merupakan mayoritas, yaitu yang tidak peduli dengan hal ini, tidak pernah merasa perlu membahas ini, dan tidak melihat manfaat buat kehidupan mereka sehari-hari jika berdebat soal ini.]
Menurut hemat saya, kedua kelompok harus mengakui keberadaan kelompok lain, dan menghormati pendapat masing-masing. Usaha untuk mempengaruhi kelompok lain tentu wajar, dan sudah menjadi naluri manusia, tetapi tentunya dengan adu argumentasi, bukan dengan saling mencibir. Ketika yang satu mencerca "Kalian merusak kaidah agama!" dan yang lain menghina "Kalian tidak toleran!", hanya mudharat yang akan keluar.
Tentunya keberadaan kedua kelompok ini harus diakui, dan dihormati pula, oleh umat lain. Memaksa orang lain untuk mengucapkan selamat kepada kita sendiri, tentunya bukan bagian dari toleransi.
Wallahu'alam.
Ceritanya, menjelang akhir tahun, Pak A seperti biasa mengirimkan kartu ucapan selamat kepada para staffnya, termasuk Pak B ini. Tapi kali ini, Pak A, menulis "Selamat Tahun Baru" saja, tanpa "Selamat Hari Natal". Ini membuat Pak B naik pitam. Dikabarkan bahwa Pak B mendatangi ruangan Pak A, menggebrak mejanya, dan mengkritiknya sebagai tidak toleran.
Terlepas dari sejauh mana detail ceritanya benar, peristiwa ini mencuatkan pertanyaan menarik: Manakah di antara kedua jenis manusia ini yang tidak toleran? Yang tidak bersedia mengucapkan selamat Natal? Atau yang tidak bisa menerima bahwa orang lain tidak mau mengucapkan selamat Natal?
Harus diakui, di antara umat Islam Indonesia ada dua kelompok dalam hal ucapan selamat Natal. Kelompok pertama berpendapat, bahwa mengucapkan selamat Natal bertolak berlakang dengan prinsip kaidah Islam, dan karenanya tidak boleh dilakukan. Kelompok kedua berpemikiran bahwa ucapan selamat Natal adalah bagian dari rasa saling menghormati antar umat manusia, tidak bertentangan dengan prinsip agama Islam, dan karenanya bukan hanya ok-ok saja, tetapi malah dianjurkan.
[Sebenarnya ada kelompok ketiga yang boleh jadi merupakan mayoritas, yaitu yang tidak peduli dengan hal ini, tidak pernah merasa perlu membahas ini, dan tidak melihat manfaat buat kehidupan mereka sehari-hari jika berdebat soal ini.]
Menurut hemat saya, kedua kelompok harus mengakui keberadaan kelompok lain, dan menghormati pendapat masing-masing. Usaha untuk mempengaruhi kelompok lain tentu wajar, dan sudah menjadi naluri manusia, tetapi tentunya dengan adu argumentasi, bukan dengan saling mencibir. Ketika yang satu mencerca "Kalian merusak kaidah agama!" dan yang lain menghina "Kalian tidak toleran!", hanya mudharat yang akan keluar.
Tentunya keberadaan kedua kelompok ini harus diakui, dan dihormati pula, oleh umat lain. Memaksa orang lain untuk mengucapkan selamat kepada kita sendiri, tentunya bukan bagian dari toleransi.
Wallahu'alam.
Selasa, 13 November 2012
Mencari kepuasaan dunia 5
[... sambungan]
Lantas, haruskah aku berdoa agar bisa mendapat mobil super ini. Hm, aku mulai merenung. Selama ini aku sudah mengejar kepuasan demi kepuasan. Ketika aku sampai di satu level, aku pikir tujuanku telah tercapai, dan tidak perlu yang lebih daripada itu. Tetapi ternyata, selalu ada level lain di atasnya, yang mensirnakan rasa puasku.
Entah di mana semua level ini berujung. Jangan-jangan tidak ada akhirnya.
Kalau aku punya supercar, jangan-jangan aku nanti iri sama yang punya jet pribadi. Jangan-jangan aku malu kalau tetap harus antri check-in dan boarding di bandara, sementara yang punya pesawat pribadi berjalan lewat sambil tersenyum sinis.
Terus kalau aku punya pesawat pribadi? Mungkin tetap minder sama yang punya airlines sendiri ... roket antariksa ... dst. ... dst. ...
Mungkin sudah saatnya untuk menikmati dan mensyukuri apa yang sudah aku dapat. Percuma kalau aku punya sesuatu tapi tidak bisa menikmatinya. Tampaknya definisiku tentang bahagia harus diubah, dari "memiliki sesuatu" menjadi "bisa menikmati apa yang sudah dimiliki".
Lantas, haruskah aku berdoa agar bisa mendapat mobil super ini. Hm, aku mulai merenung. Selama ini aku sudah mengejar kepuasan demi kepuasan. Ketika aku sampai di satu level, aku pikir tujuanku telah tercapai, dan tidak perlu yang lebih daripada itu. Tetapi ternyata, selalu ada level lain di atasnya, yang mensirnakan rasa puasku.
Entah di mana semua level ini berujung. Jangan-jangan tidak ada akhirnya.
Kalau aku punya supercar, jangan-jangan aku nanti iri sama yang punya jet pribadi. Jangan-jangan aku malu kalau tetap harus antri check-in dan boarding di bandara, sementara yang punya pesawat pribadi berjalan lewat sambil tersenyum sinis.
Terus kalau aku punya pesawat pribadi? Mungkin tetap minder sama yang punya airlines sendiri ... roket antariksa ... dst. ... dst. ...
Mungkin sudah saatnya untuk menikmati dan mensyukuri apa yang sudah aku dapat. Percuma kalau aku punya sesuatu tapi tidak bisa menikmatinya. Tampaknya definisiku tentang bahagia harus diubah, dari "memiliki sesuatu" menjadi "bisa menikmati apa yang sudah dimiliki".
[selesai]
Senin, 12 November 2012
Mencari kepuasaan dunia 4
[... sambungan]
Tampaknya aku beruntung. Sebuah sedan 3600 cc sekarang menjadi milikku. Mobil yang bisa menyalip semua yang lain di jalan tol. Mobil yang membuat satpam dan tukang parkir mengeluarkan senyum palsunya. Mobil yang pantas diparkir di hotel bintang lima, mall kelas satu, dan perkantoran ternama.
Tentu saja sekarang aku punya supir. Tempat nongkrongku pun sudah pindah ke cafe, terutama yang duduk-duduk di luar menikmati udara senja.
Mobilku? Ya parkir berderet bersama mobil sesamanya. Dan di sinilah aku mulai melihat, biarpun mobilku keren, dia tetap hanya satu dari sekian banyak model yang sama. Mobilku tetap saja adalah produk massal, bukan sesuatu yang istimewa.
Orang-orang di cafe tidak akan memperhatikan mobilku. Kalaupun iya, hanya melirik sebentar, lantas sibuk lagi dengan minuman, bacaan, atau obrolannya.
Lain kalau yang datang parkir itu Ferrari, Lamborghini, atau Aston Martin. Semua mata langsung beralih ke sana. Semua menanti siapa yang keluar dari supercar ini. Kemudian semuanya saling berbisik "Eh, itu si itu, si ini."
Wah benar-benar jadi perhatian, dan seolah-olah orang bicara tentang manusia dari level yang berbeda. Sedan 3600 cc-ku mengalami degradasi yang mematikan.
Tampaknya aku beruntung. Sebuah sedan 3600 cc sekarang menjadi milikku. Mobil yang bisa menyalip semua yang lain di jalan tol. Mobil yang membuat satpam dan tukang parkir mengeluarkan senyum palsunya. Mobil yang pantas diparkir di hotel bintang lima, mall kelas satu, dan perkantoran ternama.
Tentu saja sekarang aku punya supir. Tempat nongkrongku pun sudah pindah ke cafe, terutama yang duduk-duduk di luar menikmati udara senja.
Mobilku? Ya parkir berderet bersama mobil sesamanya. Dan di sinilah aku mulai melihat, biarpun mobilku keren, dia tetap hanya satu dari sekian banyak model yang sama. Mobilku tetap saja adalah produk massal, bukan sesuatu yang istimewa.
Orang-orang di cafe tidak akan memperhatikan mobilku. Kalaupun iya, hanya melirik sebentar, lantas sibuk lagi dengan minuman, bacaan, atau obrolannya.
Lain kalau yang datang parkir itu Ferrari, Lamborghini, atau Aston Martin. Semua mata langsung beralih ke sana. Semua menanti siapa yang keluar dari supercar ini. Kemudian semuanya saling berbisik "Eh, itu si itu, si ini."
Wah benar-benar jadi perhatian, dan seolah-olah orang bicara tentang manusia dari level yang berbeda. Sedan 3600 cc-ku mengalami degradasi yang mematikan.
Minggu, 11 November 2012
Mencari kepuasaan dunia 3
[... sambungan]
Pelan-pelan tetapi ada hal yang menggangguku. Di jalanan, aku banyak diklakson mobil lain dari belakang. Aku dianggap terlalu pelan, dan menghambat kendaraan lain untuk melaju.
Ya mau gimana, mobilku cc-nya kecil, tenaga kudanya sedikit. Tidak bisa melaju super kencang. Apalagi di jalan mendaki dan berkelok-kelok.
Aku mulai merasa terhina ketika di jalan tol tampaknya semua mobil lain menyalipku. Ketika mereka lewat, raungan mesin mereka seolah-olah meledek: "Selamat tinggal Keong Pelan! Coba susul kalau bisa!"
Aku mulai malu kalau bawa mobil kecilku ke mall, gedung bertingkat, atau lobby hotel. Para satpam di gerbang tampak tersenyum-senyum kalau memeriksa mobilku. Beda sekali dengan sikap hormat mereka ketika mendapati sedan mentereng.
Yang paling menyedihkan ketika harus parkir. Malu rasanya kalau harus parkir di antara dua mobil mewah, atau di deretan mobil-mobil mahal. Kalau melihat mobilku ada di situ, kontras sekali. Orang bisa berpikir: "Orang udik mana nih yang nyasar ke sini?"
Sekali lagi aku melamun, alangkah bangganya kalau aku punya mobil mewah dan keren. Sedan 3000cc lah, atau SUV yang gagah dan disegani. Akan hilang semua kehinaan dan permaluan yang aku alami.
Pelan-pelan tetapi ada hal yang menggangguku. Di jalanan, aku banyak diklakson mobil lain dari belakang. Aku dianggap terlalu pelan, dan menghambat kendaraan lain untuk melaju.
Ya mau gimana, mobilku cc-nya kecil, tenaga kudanya sedikit. Tidak bisa melaju super kencang. Apalagi di jalan mendaki dan berkelok-kelok.
Aku mulai merasa terhina ketika di jalan tol tampaknya semua mobil lain menyalipku. Ketika mereka lewat, raungan mesin mereka seolah-olah meledek: "Selamat tinggal Keong Pelan! Coba susul kalau bisa!"
Aku mulai malu kalau bawa mobil kecilku ke mall, gedung bertingkat, atau lobby hotel. Para satpam di gerbang tampak tersenyum-senyum kalau memeriksa mobilku. Beda sekali dengan sikap hormat mereka ketika mendapati sedan mentereng.
Yang paling menyedihkan ketika harus parkir. Malu rasanya kalau harus parkir di antara dua mobil mewah, atau di deretan mobil-mobil mahal. Kalau melihat mobilku ada di situ, kontras sekali. Orang bisa berpikir: "Orang udik mana nih yang nyasar ke sini?"
Sekali lagi aku melamun, alangkah bangganya kalau aku punya mobil mewah dan keren. Sedan 3000cc lah, atau SUV yang gagah dan disegani. Akan hilang semua kehinaan dan permaluan yang aku alami.
Sabtu, 10 November 2012
Mencari kepuasaan dunia 2
[... sambungan]
Tetapi kebahagiaanku tak berlangsung lama. Di jalan aku mulai merasakan betapa banyaknya asap knalpot yang aku hirup. Betapa bahayanya aku ketika di kiri kanan terjepit mobil-mobil besar. Dan ketika hujan, motorku harus menyerah, demi kesehatan badan, dan demi keawetan motor itu sendiri.
Aku juga merasa bahwa aku tidak bisa bawa banyak barang dengan motor. Apalagi kalau bawa istri dan anak, tak ada lagi kenyamanan di jalan.
Aku mulai iri pada yang punya mobil. Mereka tetap bisa jalan biarpun hujan; tetap bisa ngadem biarpun panas terik, berkat AC; bisa mengangkut banyak orang dan barang tanpa harus desak-desakan.
Sekali lagi harapanku terkabul. Kini aku punya mobil, kecil tapi bisa muat 6 atau bahkan 7 orang. Biarpun 1000cc, masih handal untuk jalan jauh, bahkan mudik lintas pulau pun ok. Hujan panas tak lagi jadi rintangan.
Belanja pun bukan masalah. Bagasi mobilku muat banyak barang. Kalau isteri beli jemuran pun, masih muat. Pokoknya, dunia baru lah. Selamat tinggal parkiran motor!
Tetapi kebahagiaanku tak berlangsung lama. Di jalan aku mulai merasakan betapa banyaknya asap knalpot yang aku hirup. Betapa bahayanya aku ketika di kiri kanan terjepit mobil-mobil besar. Dan ketika hujan, motorku harus menyerah, demi kesehatan badan, dan demi keawetan motor itu sendiri.
Aku juga merasa bahwa aku tidak bisa bawa banyak barang dengan motor. Apalagi kalau bawa istri dan anak, tak ada lagi kenyamanan di jalan.
Aku mulai iri pada yang punya mobil. Mereka tetap bisa jalan biarpun hujan; tetap bisa ngadem biarpun panas terik, berkat AC; bisa mengangkut banyak orang dan barang tanpa harus desak-desakan.
Sekali lagi harapanku terkabul. Kini aku punya mobil, kecil tapi bisa muat 6 atau bahkan 7 orang. Biarpun 1000cc, masih handal untuk jalan jauh, bahkan mudik lintas pulau pun ok. Hujan panas tak lagi jadi rintangan.
Belanja pun bukan masalah. Bagasi mobilku muat banyak barang. Kalau isteri beli jemuran pun, masih muat. Pokoknya, dunia baru lah. Selamat tinggal parkiran motor!
Jumat, 09 November 2012
Mencari kepuasaan dunia 1
Aku pulang pergi kerja naik kendaraan umum. Bukan karena suka, tapi karena terpaksa. Terpaksa untuk menerima segala akibatnya. Mulai dari berdesak-desakan, kepanasan, berdiri hingga berjam-jam. Belum dihitung risiko kecopetan, dioper, dan berbaur dengan segala macam bau keringat orang.
Karena itu mimpiku sederhana saja: sebuah motor bebek. Sebuah kendaraan yang sederhana tapi bisa membebaskanku dari semua siksaan ini. Dengan motor aku bisa pergi ke mana saja, pake rute apa aja, dan jam berapa aja.
Syukurlah, doaku terdengar olehNya. Kini sebuah skuter mengantarku ke mana-mana. Tak ada lagi ngejar-ngejar bus, nunggu kopaja ngetem lama, atau kebingungan ketika malam terlalu larut sampai tak ada angkot yang lewat.
Karena itu mimpiku sederhana saja: sebuah motor bebek. Sebuah kendaraan yang sederhana tapi bisa membebaskanku dari semua siksaan ini. Dengan motor aku bisa pergi ke mana saja, pake rute apa aja, dan jam berapa aja.
Syukurlah, doaku terdengar olehNya. Kini sebuah skuter mengantarku ke mana-mana. Tak ada lagi ngejar-ngejar bus, nunggu kopaja ngetem lama, atau kebingungan ketika malam terlalu larut sampai tak ada angkot yang lewat.
Jumat, 12 Oktober 2012
Shalat berjamaah, cermin umat Islam Indonesia 8
Kalau dipikir-pikir, cara kita shalat berjamaah sebenarnya mencerminkan kondisi kita sebagai sebuah kelompok. Mari kita lihat beberapa aspeknya.
8. Makmum
Seperti sudah disebut sebelum ini, sudah menjadi kewajiban makmum untuk mengikuti imam. Dalam hal makmum masbuk (terlambat) sering kita lihat bahwa makmum lihat-lihat dan pilih-pilih kapan dia mulai mengikuti imam.
Biasanya dia memilih untuk masuk barisan ketika imam berdiri di rakaat baru. Dia enggan bergabung di saat ruku, itidal, atau sujud. Dia merasa rugi kalau melakukan rukun shalat tetapi tidak dihitung rakaat. Dia melihat shalat dari perhitungan untung rugi.
Dia lupa bahwa gerakan dan bacaan shalat bukanlah hal yang sia-sia. Semuanya ada manfaatnya. Harusnya dia malah senang karena bisa membaca beberapa doa lebih banyak daripada biasanya.
Begitu juga di luar shalat. Ada individu yang pikir-pikir, lihat-lihat, atau ngitung-ngitung sebelum bergabung ke barisan umat. Menyedihkannya, jika setelah lihat-lihat, dia tidak merasa sreg, dia malah membuat barisan sendiri.
Persis seperti sebagian makmum yang lebih memilih membentuk jamaah baru daripada bergabung ke jamaah yang sudah ada.
8. Makmum
Seperti sudah disebut sebelum ini, sudah menjadi kewajiban makmum untuk mengikuti imam. Dalam hal makmum masbuk (terlambat) sering kita lihat bahwa makmum lihat-lihat dan pilih-pilih kapan dia mulai mengikuti imam.
Biasanya dia memilih untuk masuk barisan ketika imam berdiri di rakaat baru. Dia enggan bergabung di saat ruku, itidal, atau sujud. Dia merasa rugi kalau melakukan rukun shalat tetapi tidak dihitung rakaat. Dia melihat shalat dari perhitungan untung rugi.
Dia lupa bahwa gerakan dan bacaan shalat bukanlah hal yang sia-sia. Semuanya ada manfaatnya. Harusnya dia malah senang karena bisa membaca beberapa doa lebih banyak daripada biasanya.
Begitu juga di luar shalat. Ada individu yang pikir-pikir, lihat-lihat, atau ngitung-ngitung sebelum bergabung ke barisan umat. Menyedihkannya, jika setelah lihat-lihat, dia tidak merasa sreg, dia malah membuat barisan sendiri.
Persis seperti sebagian makmum yang lebih memilih membentuk jamaah baru daripada bergabung ke jamaah yang sudah ada.
Senin, 08 Oktober 2012
Shalat berjamaah, cermin umat Islam Indonesia 7
Kalau dipikir-pikir, cara kita shalat berjamaah sebenarnya mencerminkan kondisi kita sebagai sebuah kelompok. Mari kita lihat beberapa aspeknya.
7. Makmum
Sudah menjadi kewajiban makmum untuk mengikuti imam; tentunya selama imam melakukan rukun shalat dengan benar. Konsekwensinya: makmum tidak boleh mendahului imam, tidak boleh shalat dengan rukun yang berbeda.
Sayangnya terkadang kita lihat makmum yang misalnya sudah mulai ruku sebelum imam. Mungkin si makmum ingin terlihat bahwa dia kenal surat yang dibaca imam, dan tahu kapan akhir suratnya. Dia lupa bahwa shalat bukanlah sarana pamer.
Ada juga makmum yang terlihat yakin bahwa imam setelah rukun yang satu, akan melakukan rukun yang lain. Makmum seperti ini terlihat dari gerakannya yang cepat, dan sudah bergerak sebelum imam sempurna menyelesaikan rukunnya.
Dia mungkin lupa bahwa imam bisa jadi akan baca qunut, kalau dianggap perlu, atau langsung sujud setelah membaca ayat sajdah.
Kalau makmum yang tidak sinkron biasanya terjadi di sujud terakhir. Ada yang punya agenda sendiri, dan sujud lebih lama. Tampaknya karena dia menggunakan kesempatan itu untuk membaca doa pribadinya.
Untungnya yang sujud menyendiri ini tidak banyak. Bayangkan kalau semua makmum sujud akhir sendiri-sendiri, ada yang sebentar, lama, lebih lama, lebih lama lagi ... Di mana berjamaahnya?
Yang agak lebih banyak adalah makmum yang "ngotot" menyelesaikan bacaan shalat. Maksudnya, ketika imam pindah rukun, makmum belum selesai dengan bacaannya. Si makmum, bukannya mengikuti imam, malah menghabiskan dulu bacaan, dengan terburu-buru, baru kemudian mengejar ketinggalannya. Dia lupa bahwa sudah menjadi tugas imam untuk mewakili makmum, dan kita tinggal mengikutinya.
Bagaimana di luar shalat? Ya tampaknya tidak jauh beda. Kita tidak senantiasa seiring dengan pemimpin. Ada di antara kita yang merasa lebih handal daripada pemimpin, atau di lain pihak sok merasa yakin apa maunya pemimpin. Di sisi lain adapula yang melangkah berbeda, tidak sejalan dengan pemimpin.
Benar bahwa pemimpin bisa keliru, dan sudah menjadi kewajiban kita untuk mengingatkannya, serta pemimpin wajib mengkoreksi kesalahannya. Sama seperti di dalam shalat.
Ok, harus diakui, keadaan di luar shalat bisa lebih rumit dan tidak sejelas rukun shalat. Tetapi mudah-mudahan, kalau kita di dalam shalat makin kompak, di luar shalat pun demikian.
7. Makmum
Sudah menjadi kewajiban makmum untuk mengikuti imam; tentunya selama imam melakukan rukun shalat dengan benar. Konsekwensinya: makmum tidak boleh mendahului imam, tidak boleh shalat dengan rukun yang berbeda.
Sayangnya terkadang kita lihat makmum yang misalnya sudah mulai ruku sebelum imam. Mungkin si makmum ingin terlihat bahwa dia kenal surat yang dibaca imam, dan tahu kapan akhir suratnya. Dia lupa bahwa shalat bukanlah sarana pamer.
Ada juga makmum yang terlihat yakin bahwa imam setelah rukun yang satu, akan melakukan rukun yang lain. Makmum seperti ini terlihat dari gerakannya yang cepat, dan sudah bergerak sebelum imam sempurna menyelesaikan rukunnya.
Dia mungkin lupa bahwa imam bisa jadi akan baca qunut, kalau dianggap perlu, atau langsung sujud setelah membaca ayat sajdah.
Kalau makmum yang tidak sinkron biasanya terjadi di sujud terakhir. Ada yang punya agenda sendiri, dan sujud lebih lama. Tampaknya karena dia menggunakan kesempatan itu untuk membaca doa pribadinya.
Untungnya yang sujud menyendiri ini tidak banyak. Bayangkan kalau semua makmum sujud akhir sendiri-sendiri, ada yang sebentar, lama, lebih lama, lebih lama lagi ... Di mana berjamaahnya?
Yang agak lebih banyak adalah makmum yang "ngotot" menyelesaikan bacaan shalat. Maksudnya, ketika imam pindah rukun, makmum belum selesai dengan bacaannya. Si makmum, bukannya mengikuti imam, malah menghabiskan dulu bacaan, dengan terburu-buru, baru kemudian mengejar ketinggalannya. Dia lupa bahwa sudah menjadi tugas imam untuk mewakili makmum, dan kita tinggal mengikutinya.
Bagaimana di luar shalat? Ya tampaknya tidak jauh beda. Kita tidak senantiasa seiring dengan pemimpin. Ada di antara kita yang merasa lebih handal daripada pemimpin, atau di lain pihak sok merasa yakin apa maunya pemimpin. Di sisi lain adapula yang melangkah berbeda, tidak sejalan dengan pemimpin.
Benar bahwa pemimpin bisa keliru, dan sudah menjadi kewajiban kita untuk mengingatkannya, serta pemimpin wajib mengkoreksi kesalahannya. Sama seperti di dalam shalat.
Ok, harus diakui, keadaan di luar shalat bisa lebih rumit dan tidak sejelas rukun shalat. Tetapi mudah-mudahan, kalau kita di dalam shalat makin kompak, di luar shalat pun demikian.
berlanjut
Shalat berjamaah, cermin umat Islam Indonesia 6
Kalau dipikir-pikir, cara kita shalat berjamaah sebenarnya mencerminkan
kondisi kita sebagai sebuah kelompok. Mari kita lihat beberapa aspeknya.
6. Makmum
Sebelum ini sudah kita bahas masalah pentingnya merapatkan shaf shalat. Alhamdulillah, ini sudah makin diperhatikan, dan kita lihat bagaimana imam mengingatkan makmumnya tentang ini.
Sayangnya, tidak jarang rapatnya shaf hanya muncul di rakaat pertama saja. Ketika kita berdiri di rakaat kedua, kita merasa sudah ada celah di antara bahu kita dan bahu makmum sebelah. Dan sudah ada jarak pula di antara jari kaki kita dengan jari kaki kawan sebelah. Kaki yang di rakaat pertama masih merenggang keluar, sekarang sudah menciut ke dalam.
Ini mungkin gambaran kekompakan kita sebagai umat: tidak persisten. Kita hanya erat bersatu di awal-awal saja, ketika baru diingatkan. Setelah itu kita kembali menjadi individu-individu yang tidak peduli dengan persatuan umat.
Barangkali ada baiknya imam, sebelum shalat, menegaskan bahwa rapatnya shaf harus dijaga hingga ke rakaat terakhir. Kalau ini bisa dicapai, mudah-mudahan menjadi pembuka jalan bagi persistensi kekompakan umat.
6. Makmum
Sebelum ini sudah kita bahas masalah pentingnya merapatkan shaf shalat. Alhamdulillah, ini sudah makin diperhatikan, dan kita lihat bagaimana imam mengingatkan makmumnya tentang ini.
Sayangnya, tidak jarang rapatnya shaf hanya muncul di rakaat pertama saja. Ketika kita berdiri di rakaat kedua, kita merasa sudah ada celah di antara bahu kita dan bahu makmum sebelah. Dan sudah ada jarak pula di antara jari kaki kita dengan jari kaki kawan sebelah. Kaki yang di rakaat pertama masih merenggang keluar, sekarang sudah menciut ke dalam.
Ini mungkin gambaran kekompakan kita sebagai umat: tidak persisten. Kita hanya erat bersatu di awal-awal saja, ketika baru diingatkan. Setelah itu kita kembali menjadi individu-individu yang tidak peduli dengan persatuan umat.
Barangkali ada baiknya imam, sebelum shalat, menegaskan bahwa rapatnya shaf harus dijaga hingga ke rakaat terakhir. Kalau ini bisa dicapai, mudah-mudahan menjadi pembuka jalan bagi persistensi kekompakan umat.
berlanjut
Langganan:
Postingan (Atom)
