Tampilkan postingan dengan label pemimpin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemimpin. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2012

Shalat berjamaah, cermin umat Islam Indonesia 4

Kalau dipikir-pikir, cara kita shalat berjamaah sebenarnya mencerminkan kondisi kita sebagai sebuah kelompok. Mari kita lihat beberapa aspeknya.

4. Imam
Ada trend membaik belakangan ini: sebelum shalat, para Imam mengingatkan perlunya merapatkan dan meluruskan shaf. Ada juga yang menambahkan anjuran untuk mematikan handphone.

Sebagian imam lain tapi tetap di tradisi lama: setelah qamat, langsung saja ke tempat imam. Paling ngelirik dikit ke belakang, tanpa komentar apa-apa. Begitu saja.

Begitu juga para pemimpin kita. Begitu berada di depan, seperti tak peduli dengan apa yang terjadi di belakangnya. Baru kalau mau ada pemilihan lagi, turun langsung ke pasar, sok ngobrol sama orang di pinggir jalan, pura-pura bincang-bincang dengan rakyat kecil. Setelah itu? Mana mau panas-panasan masuk ke gang sempit ...

Sudah waktunya mengubah kebiasan ini.

berlanjut

Jumat, 05 Oktober 2012

Shalat berjamaah, cermin umat Islam Indonesia 3

Kalau dipikir-pikir, cara kita shalat berjamaah sebenarnya mencerminkan kondisi kita sebagai sebuah kelompok. Mari kita lihat beberapa aspeknya.

3. Imam
Bolehkah makmum bersungut-sungut tentang imam? Harusnya tidak. Makmum harusnya ikhlas dengan imamnya.

Tapi memang terkadang, menggerutui imam tak terhindarkan. Misalnya karena imam shalatnya luar biasa panjang, seperti tidak peduli bahwa di antara makmum mungkin ada yang sedang tidak begitu fit, jadi tidak tahan berdiri lama-lama. Atau ada yang sudah berumur sehingga hanya bisa ruku sebentar. Atau ada yang sedang cape banget, hingga perlu segera istirahat.

Ini misalnya muncul karena imam membaca surat yang panjang, atau banyak ayat. Ini sangat akut ketika Pak Imam melantunkan surat dan ayat itu dengan melodi tertentu yang mau tak mau membuat para makmum jadi berpikir: "Ini Pak Imam mau pamer bisa ngaji, atau apa?" Hilang deh khusyu, makmum harus nahan pegel, sambil sedikit ngedumel.

Ini juga dunia para pemimpin kita. Sebagian tampak seolah tidak peduli dengan keadaan rakyatnya. Selama dia masih merasa enak makan, enak tidur, enak di jalan, tak ada terpikir apakah rakyat merasakan hal yang sama. Sebagian malah mungkin lebih senang melantun, melagu, dan berkaraoke daripada introspeksi apakah rakyat sudah puas dengan dia.

berlanjut

Kamis, 04 Oktober 2012

Shalat berjamaah, cermin umat Islam Indonesia 2

Kalau dipikir-pikir, cara kita shalat berjamaah sebenarnya mencerminkan kondisi kita sebagai sebuah kelompok. Mari kita lihat beberapa aspeknya.

2. Imam
Imam adalah pemimpin. Sebagai pemimpin dia memberikan contoh atau teladan. Tidak heran kalau dalam shalat berjamaah kita mencontoh atau mengikuti gerak-gerik imam.

Sayangnya, terkadang ada imam yang tidak memberi teladan di satu hal: bersegera ke mesjid. Di sebagian mesjid, jamaah sengaja tidak memuai shalat karena menunggu imam. Dan ada imam yang tampaknya menikmati privilege ini. "Ah santai aja ke mesjidnya, toh ditungguin ini."

Ini juga terjadi di luar shalat. Para pemimpin kita seolah tak merasa perlu memberikan teladan. Apakah itu dalam hal hidup sederhana, naik kendaraan umum, berbaur dengan masyarakat, dsb. Mereka seolah berpandangan: "Aku udah di posisi istimewa, punya hak-hak istimewa, ngapain lagi mesti susah-susah kayak rakyat kecil? Pemimpin harus hidup beda dong dibanding rakyat."

Tampaknya itulah profil imam dan pemimpin kita. Menyedihkan? Ya.

berlanjut

Rabu, 03 Oktober 2012

Shalat berjamaah, cermin umat Islam Indonesia 1

Kalau dipikir-pikir, cara kita shalat berjamaah sebenarnya mencerminkan kondisi kita sebagai sebuah kelompok. Mari kita lihat beberapa aspeknya.

1. Imam
Idealnya, yang jadi imam itu yang paling dalam ilmu agamanya, yang paling bagus bacaan shalatnya, yang paling mengerti adab menjadi imam. Kenyataannya, yang jadi imam ya yang memang biasa jadi imam. Kalau tidak ada dia, ya kita lihat-lihat yang penampilannya paling ok. Kita lihat pecinya lah, baju kokonya, janggutnya, atau surbannya.

Nah dalam memilih pemimpin, kitapun cenderung begitu. Harusnya kita pilih tokoh yang handal, piawai, cerdas, bijaksana, dan beribu sifat baik lainnya. Dalam prakteknya, kita suka-suka cuma melihat apakah si calon berasal dari keluarga yang biasa memimpin, apakah dia keturunan pemimpin, atau apakah dia punya trah pemimpin. Kalau kriteria itu tidak masuk, kita lihat penampilannya: tampangnya, cara senyumnya, caranya berpakaian, dsb.

Dengan cara memilih seperti itu, tidak heran kalau para pemimpin kita hanya terdiri dari dua jenis: pertama, yang nama belakangnya sama atau mirip dengan tokoh zaman dulu; kedua, artis.

berlanjut